Save Your Marriage Today

Tuesday, June 29, 2021

Cerita Kawan Yang Kakaknya Meninggal Karena Covid

Copas status rekan wartawan kompas.
Kejadian real 
Jangan takut tapi jangan abai
********

Sehari ini gw berasa kayak naik roller coaster..
Dari happy, jadi sedih, sampai akhirnya nggak tahu harus merasa apa.. 

Hari itu emang tumben banget gw bangun subuh. Terbangunnya pun karena mimpi bertemu kakak gw yang pertama. Di mimpi itu kakak gw tidur berbaring dengan menjulurkan salah satu tangannya di atas kasur. Seperti anak kecil, gw langsung merebahkan kepala di atas lengannya itu. Dia gak mengatakan apa-apa, selain matanya tertutup dengan tenang. 

Setelah itu gw terbangun dan sempat berpikir, kok tumben kakak gw hadir di mimpi. Sempat khawatir dia sakit, hingga akhirnya gw lanjut subuhan dan berdoa semoga dia baik2 aja. Kebetulan kami memang jarang bertemu.. 

Pagi, seperti pagi biasanya.. tapi kali ini berbeda karena media tempat gw bekerja sedang ultah. Gw pun sibuk lihat2 tampilan edisi khusus ultah itu hingga mengikuti perayaan virtual. Seru juga karena ada kuis tebak lagu.. apalagi ada voucher makan 100rb lewat aplikasi ojol. Sambil ngecek berita ini itu.. dan memandangi halaman koran yang sepertinya selapangan bola. Artinya siap2 harus banyak berita.. 

Gak lama setelah perayaan virtual berlalu, kakak ipar gw yang cowok dateng dengan muka sedih. Dia mengabarkan kakak gw yang pertama baru aja meninggal akibat Covid. Gw pun langsung teringat mimpi tadi pagi. Gw hanya membantin, mungkin kakak gw datang di mimpi itu untuk "say goodbye".. 

Seperti biasa.. gw butuh waktu untuk mencerna kabar yang datangnya tiba-tiba. Saat itu gw masih merasa biasa. Sementara nyokap dan kakak gw yang lain dah nangis. Dan gw malah sibuk menghubungi suami kakak gw yang pertama, menanyakan kabar dia dan anaknya. Ternyata suaminya OTG, sementara jenazah kakak gw masih terbaring di kamar dan belum ada yang evakuasi. 

Seketika itu juga gw putuskan kita harus ke rumahnya di Bekasi. Tidak terlalu jauh tapi lumayan macet. Sampai di rumahnya, jenazah masih terbaring, belum ada satgas covid yang evakuasi. Setelah tanya pengurus RT dan tetangga, dan sambil minta bantuan teman yang tugas di Bekasi, Evan, baru diperoleh kepastian satgas covid meluncur dari Padurenan (TPU). Maghrib jenazah kakak gw baru bisa dievakuasi. Sempat jengkel karena penanganan yang dirasa lambat. Tapi kejengkelan itu akhirnya luruh setelah menyaksikan satgas Covid juga pontang-panting seharian untuk evakuasi pasien maupun jenazah positif covid ke rumah sakit di kota bekasi. 

Di halaman rumah sakit pun dah kayak rumah sakit lapangan. Banyak veltbed dijejer di dalam tenda, dan tak ada satu pun veltbed yang kosong. 

Masuk ke rumah duka, di halamannya terparkir 3-4 ambulans menunggu giliran untuk memasukan jenazah yang diangkutnya ke dalam rumah duka. Salah satu ambulans itu mengangkut jenazah kakak gw. 

Antrean tambah panjang karena peti jenazah belum datang. Seorang petugas forensik, dengan gaya yang sangat gw kenal khas petugas forensik di rumah sakit umum, dengan santai mengatakan, "Sehari 40 jenazah covid yang masuk ke sini,,". 
"Banyak yah, makanya sampai antre begini," kata saya menimpali. 

Saat itu pun gw merasakan lagi suasana hiruk-pikuk kamar jenazah jika ada sebuah bencana, kecelakaan besar, atau peristiwa penyerangan teroris. Hanya kali ini tidak ada wartawan yang biasanya menambah ramai suasana. Tidak ada otopsi atau pengambilan sampel DNA juga, seperti yang biasanya gw jumpai di kamar jenazah RS Polri Kramat Jati saat meliput. 

Kali ini rumah duka/kamar jenazah dipenuhi jasad-jasad terinfeksi covid yang sudah terbujur kaku dalam selubung kantong mayat berwarna oranye. Jasad itu menunggu giliran dipindahkan ke dalam peti yang akhirnya tiba juga malam itu. Diselingi senda gurau para petugas satgas covid berusia 20-25 tahun. Bukannya tidak menghormati jasad yang menunggu antrean untuk dipetikan, tetapi letih mereka juga membutuhkan penawar. 

"Sehari ini ada 25 orderan untuk evakuasi pasien dan jenazah covid yang masuk ke tim saya. Sementara ambulans rumah sakit hanya dua. Makanya ini banyak masuk ambulan lainnya," kata diki, salah satu petugas satgas. 

"Capek yah mas," kata saya berusaha menunjukkan empati. 

Ambulans lain yang datang itu umumnya ambulans berlabel partai. Jadilah ambulans-ambulans jadi bahan candaan para petugas satgas itu. "Awas..awas.. P3 masuk," kata salah satu petugas itu berseloroh. P3 yang dimaksud tak lain adalah ambulans dari partai berlambang Kabah. 

Ternyata perasaan saya nggak jauh berbeda dengan keluarga lain yang sedang mengurus jenazah kerabatnya yang tertular covid. "Iya, mau bagaimana lagi. Yang tertular banyak banget. Petugasnya terbatas. Saya saja pegawai rumah sakit, nggak bisa dapat prioritas. Kata teman saya, sulit dapat prioritas karena yang meninggal akibat covid juga sedang banyak. Ini yang meninggal mertua saya karena covid juga," tuturnya. 

"Iya bu, saya juga sampai nggak ngerti. Dari nangis karena sedih, sampai nggak tahu harus bagaimana lagi melihat keadaan kayak begini. Petugas satgas juga pasti pada capek. Kita sendiri yang harus ngerti," ucap saya. 

Setelah memperoleh kepastian jenazah kakak gw disiapkan untuk masuk peti. Gw memutuskan pulang karena pemakaman baru keesokan hari. Sambil terus menduga-duga jangan2 jasad kakak gw masuk di peti yang salah, tidak sesuai identitasnya. 

Di mobil, nyokap dan kakak gw yang lain menunggu. Mereka semua kelompok rawan karena dua kakak gw yang lain belum lama ini juga tertular covid. Suaminya juga ada komorbid. Sementara nyokap dah banyak banget komorbidnya. 
Setelah menyemprot seluruh badan dengan alkohol, gw masuk ke mobil. Menjelaskan semua proses yang telah dilalui dan yang perlu disiapkan untuk pemakaman. Sambil mengingatkan nyokap dan kakak2 gw yang lain, "Jenazah covid yang masuk rumah duka banyak banget. Ada sekitar delapan jenazah. Kalau jenazah kakak kita tertukar identitasnya dengan jenazah lain, gak apa yah. Tapi tadi aku udah mastiin sih, ejaan namanya untuk dipasang di peti itu benar," kata gw menjelaskan. 

"Iyalah, kita pasrah aja. Kondisi lagi kayak begini. Yang penting doanya aja," ucap nyokap dan diamini kakak gw yang lainnya.

Kami kemudian sambil saling mengingatkan, "Sampai rumah langsung mandi, keramas, baju langsung masuk mesin cuci," kata kakak gw. 

"Iya nih kan gw bolak-balik masuk ruang jenazah. Di halaman rumah sakit juga banyak banget pasien yang dirawat di tenda. Sementara kita semua satu mobil," kata gw mengingatkan. 

Rasa sedih dan kehilangan itu masih sangat melekat, tapi mungkin kami simpan dulu. Bukan hanya berempati terhadap petugas satgas dan nakes covid yang bertugas, tetapi juga tetap bersikap waspada terhadap covid, barang renik yang tak kasat mata itu.. 

Stay safe teman-teman..